Ø
NETWORK LAYER
•
Kuliah ke 5
Ø
NETWORK LAYER
Ø Menjelaskan
Lapisa ke tiga dari Model OSI
Ø Menjelaskan
masalah-masalah yang terjdi pada lapis jaringan dan layanan yang disediakan .
Ø
Menjelaskan tentang standard protokol internet yang ada dalam
lapisan jaringan
Ø Network
layer berfungsi untuk menangani masalah jaringan komunikasi secara rinci.
Ø Pada
lapisan ini, data yang berupa pesan-pesan (message) akan dibagi dalam bentuk
paket-paket data yang dilengkapi dengan header-header tertentu pada setiap
paket tersebut.
Ø Lapisan
ini mengambil paket dari sumber dan mengirimkannya ke tujuan.
Ø
Dalam melaksanakan tugasnya, network layer harus mengetahui
topologi subnet komunikasi (yaitu router secara keseluruhan) dan memilih
lintasan yang cocok untuk mengirimkan paket tersebut.
Ø
1. Masalah-masalah dalam Rancangan Network Layer
Ø Masalah-masalah
itu meliputi :
–
Layanan yang disediakan bagi transport Layer.
–
Rancangan Internal Subnet komunikasi
–
Perbandingan Virtual Circuit Subnet dan Datagram Subnet
Ø Layanan
layanan network layer dirancang sesuai tujuan-tujuan berikut :
–
Layanan harus independen terhadap teknologi subnet.
–
Transport Layer harus disekat dari jumlah, jenis dan topologi
subnet yang ada.
–
Alamat jaringan yang biasa digunakan transport layer harus
menggunakan penomoran yang seragam, bahkan untuk LAN maupun WAN
Ø Apakah
Network layer menyediakan layanan Connection Oriented atau Connectionless ?
Ø Ada 2
filosofi dalam mengelola subnet komunikasi : Connectio Oriented dan
Connectionless.
Ø Dalam
konteks operasi internal subnet, suatu koneksi
disebut Rangkaian Virtual (Virtual Circuit) baik secara internal maupun
eksternal
Ø
Sedangkan yang tidak menggunakan koneksi disebut datagram
baik secara internal maupun eksternal
Ø Virtual
Circuit biasa digunakan dalam subnet yang layanan utamanya adalah Connection
Oriented
Ø Didalam
VC , pemilihan rute baru bagi setiap paket atau sel yang akan dikirimkan
dihindarkan
Ø Sebaliknya
dalam datagram subnet, tidak terdapat rute yang bekerja sebelumnya walaupun
layanannya Connection Oriented
Ø
Setiap paket dirutekan secara bebas.
ü
Rangkaian Virtual (VC) pada dasarnya adalah suatu hubungan
secara logika yang dibentuk untuk menyambungkan dua stasiun.
ü
Paket dilabelkan dengan nomor VC dan nomor urut paket. Paket
dikirim dan datang secara berurutan
ü Stasiun A mengirimkan 6 paket. Jalur antara A dan B secara logik disebut
sebagai jalur 1, sedangkan jalur antara A dan C disebut sebagai jalur 2.
ü Paket pertama yang akan dikirimkan lewat jalur 1 dilabelkan sebagai
paket 1.1, sedangkan paket ke-2 yang dilewatkan jalur yang sama dilabelkan
sebagai paket 1.2 dan paket terakhir yang dilewatkan jalur 1 disebut sebagai
paket 1.3.
ü Sedangkan paket yang pertama yang dikirimkan lewat jalur 2 disebut
sebagai paket 2.1, paket kedua sebagai paket 2.2 dan paket terakhir sebagai
paket 2.3
ü
Dari gambar tersebut kiranya jelas
bahwa paket yang dikirimkan diberi label jalur yang harus dilewatinya dan paket
tersebut akan tiba di stasiun yang dituju dengan urutan seperti urutan
pengiriman.
•
Secara internal rangkaian Virtual ini bisa digambarkan sebagai
suatu jalur yang sudah disusun untuk berhubungan antara satu stasiun dengan
stasiun yang lain melalui router-router.
•
Semua paket dengan asal dan tujuan
yang sama akan melewati jalur yang sama sehingga akan sam pai ke stasiun yang dituju sesuai
dengan urutan pada saat pengiriman (FIFO). Gambar berikut menjelaskan tentang rangkaian
virtual internal.
•
Gambar diatas menunjukkan adanya
jalur yang harus dilewati apabila suatu paket ingin dikirimkan dari A menuju B
(rangkaian virtual 1 atau Virtual Circuit 1
disingkat VC #1). Rangkaian ini dibentuk dengan rute melewati node 1-2-3.
•
Sedangkan untuk mengirimkan paket
dari A menuju C dibentuk rangkaian virtual VC #2,
yaitu rute yang melewati node 1-4-3-6.
•
Dalam bentuk datagram, setiap paket
dikirimkan secara independen. Setiap paket diberi label alamat tujuan.
•
Berbeda dengan rangkaian
virtual, datagram memungkinkan paket yang
diterima berbeda urutan dengan urutan saat paket tersebut dikirim. Gambar berikut ini akan membantu memperjelas
ilustrasi.
•
Jaringan mempunyai satu stasiun
sumber, A dan dua stasiun tujuan yakni B dan C.
•
Paket yang akan dikirimkan ke stasiun
B diberi label alamat stasiun tujuan yakni B dan ditambah nomor paket sehingga
menjadi misalnya B.1, B.3 , dst.
•
Demikian juga paket yang ditujukan ke
stasiun C diberi label yang serupa, misalnya paket C.5, C.17, dsb.
•
Dari gambar diatas terlihat stasiun A
mengirimkan enam buah paket. Tiga paket ditujukan ke alamat B. Urutan
pengiriman untuk paket B adalah paket B.1, Paket B.2 dan paket B.3. sedangkan
tiga paket yang dikirimkan ke C masing-masing secara urut adalah paket C.1,
paket C.2 dan paket C.3.
•
Paket-paket tersebut sampai di B
dengan urutan kedatangan B.2, paket B.3 dan terakhir paket B.1 sedangkan di
statiun C, paket paket tersebut diterima dengan urutan C.3, kemudian paket C.1
dan terakhir paket C.2.
•
Ketidakurutan ini lebih disebabkan
karena paket dengan alamat tujuan yang sama tidak harus melewati jalur yang
sama. Setiap paket bersifat independen terhadap sebuah jalur.
•
Artinya sebuah paket sangat mungkin
untuk melewati jalur yang lebih panjang dibanding paket yang lain, sehingga
waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke alamat tujuan berbeda tergantung rute
yang ditempuhnya. Secara internal datagram dapat digambarkan sebagai berikut
•
Salah satu fungsi
dari jaringan network layer adalah menerima paket dari stasiun pengirim untuk diteruskan ke stasiun
penerima.
•
Untuk keperluan ini, suatu jalur atau
rute dalam jaringan tersebut harus dipilih, sehingga akan muncul lebih dari
satu kemungkinan rute untuk mengalirkan data.
•
Untuk itu fungsi dari routing harus
diwujudkan. Fungsi routing sendiri harus mengacu kepada nilai nilai antara lain
: tanpa kesalahan, sederhana, kokoh, stabil, adil dan optimal disamping juga
harus mengingat perhitungan faktor efisiensi.
•
Untuk
membentuk routing, maka harus mengetahui unsur-unsur routing, antara lain
Ø
A. Algoritma Routing
Ø Ada dua
algoritma routing yang digunakan untuk mencari rute dengan biaya minimum :
– Forward-search algorithm
–
Backward search algorithm
Ø Forward-search algorithm dinyatakan sebagai menentukan jarak terpendek
dari node awal yang ditentukan ke setiap node yang ada
Ø
Algoritmanya sebagai berikut
•
Tetapkan M={S}. Untuk tiap node nÎN-S, tetapkan C1(n)=l(S,n).
•
Cari WÎN-M sehingga C1(W) minimum dan tambahkan ke M.
Kemudian C1 (n) = MIN[C1(n), C1(W) + l(W,n) untuk tiap node nÎN-M. Apabila pada pernyataan terakhir bernilai
minimum, jalur dari S ke n sebagai jalur S ke W memotong link dari W ke n.
•
Ulang langkah 2 sampai M=N.
Keterangan :
N = himpunan node dalam jaringan
S = node sumber
M = himpunan node yang dihasilkan oleh algoritma
l(I,J) = link cost dari node ke I sampi node ke j,
biaya bernilai ¥ jika node tidak secara langsung
terhubung.
C1(n) : Biaya dari jalur biaya terkecil dari S ke n
yang dihasilkan pada saat algoritma dikerjakan.
Ø
Backward search algorithm
Ø
Menentukan jalur biaya terkecil yang
diberikan node tujuan dari semua node yang ada. Algoritma ini juga diproses
tiap stage. Pada tiap stage, algoritma menunjuk masing-masing node.
Definisi yang digunakan :
N = Himpunan node yang terdapat pada jaringan
D= node tujuan
l(i,j) = seperti keterangan di muka
C2(n) = biaya dari jalur biaya terkecil dari n ke D yang dihasilkan saat
algoritma dikerjakan.
Ø
Algoritma ini juga terdiri dari 3 tahapan :
Ø
Tetapkan C2(D)=0. Untuk tiap node nÎN-D, tetapkan C2(n) =¥.
Ø
Untuk tiap node nÎN-D, tetapkan C2(n)=MIN WÎN[C2(n), C2(W) + l(n,W)]. Apabila pada pernyataan
terakhir bernilai minimum, maka jalur dari n ke D saat ini merupakan link dari
n ke W dan menggantikan jalur dari W ke D
Ø
Ulangi langkah ke –2 sampai tidak ada
cost yang berubah.
Ø Terdapat beberapa strategi untuk melakukan routing,
antara lain :
– Fixed Routing
– Flooding
– Random
Routing
– Adaptive
Routing
Fixed Routing .,
Merupakan cara routing yang paling sederhana. Dalam hal ini rute bersifat tetap, atau
paling tidak rute hanya diubah apabila topologi jaringan berubah. Gambar
berikut (mengacu dari gambar 1) memperlihatkan bagaimana sebuah rute yang tetap
dikonfigurasikan.
Ø Cara kerja teknik ini adalah mengirmkan paket dari
suatu sumber ke seluruh node tetangganya.
Ø
Pada tiap node, setiap paket yang
datang akan ditransmisikan kembali ke seluruh link yang dipunyai kecuali link
yang dipakai untuk menerima paket tersebut.
Ø Mengambil contoh rute yang sama, sebutlah bahwa node 1 akan mengirimkan
paketnya ke node 6. (Lihat Gambar Hop
pertama)
Ø Pertamakali node 1 akan mengirimkan paket keseluruh tetangganya, yakni
ke node
2, node 4 dan node 3
2, node 4 dan node 3
Ø
Selanjutnya operasi terjadi pada node 2, 3 dan
4. Node 2 mengirimkan paket ke tetangganya yaitu ke node 3 dan node 4.
Sedangkan node 3 meneruskan paket ke node 2,4,5 dan node 6. Node 4 meneruskan
paket ke node 2,3,5. Semua node ini tidak mengirimkan paket ke node 1. (Gambar Hop kedua)
•
Pada saat ini jumlah copy yang
diciptakan berjumlah 9 buah. Paket-paket yang sampai ke titik tujuan, yakni
node 6, tidak lagi diteruskan.
•
Posisi terakhir node-node yang
menerima paket dan harus meneruskan adalah node 2,3,4,5. Dengan cara yang sama
masing-masing node tersebut membuat copy dan memberikan ke mode tetangganya.
Pada saat ini dihasilkan copy sebanyak 22.
Terdapat dua catatan penting dengan
penggunaan teknik flooding ini, yaitu :
•
Semua rute yang dimungkinkan akan
dicoba. Karena itu teknik ini memiliki keandalan yang tinggi dan cenderung
memberi prioritas untuk pengiriman-pengiriman paket tertentu.
•
Karena keseluruhan rute dicoba, maka
akan muncul paling tidak satu buah copy paket di titik tujuan dengan waktu
paling minimum. Tetapi hal ini akan menyebakan naiknya beban lalulintas yang
pada akhirnya menambah delay bagi rute-rute secara keseluruhan.
•
Prinsip utama dari teknik ini adalah
sebuah node memiliki hanya satu jalur keluaran untuk menyalurkan paket yang
datang kepadanya.
•
Pemilihan terhadap sebuah jalur
keluaran bersifat acak. Apabila link yang akan dipilih memiliki bobot yang
sama, maka bisa dilakukan dengan pendekatan seperti teknik round-robin.
•
Routing ini adalah mencari
probabilitas untuk tiap-tiap outgoing link dan memilih link berdasar
nilai probabilitasnya.
•
Probabilitas bisa dicari berdasarkan
data rate, dalam kasus ini didefisinikan sebagai
•
Strategi routing yang sudah dibahas
dimuka, tidak mempunyai reaksi terhadap perubahan kondisi yang terjadi di dalam
suatu jaringan.
•
Untuk itu pendekatan dengan strategi
adaptif mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan beberapa hal di
muka.
•
Dua hal yang penting yang
menguntungkan adalah :
–
Strategi routing adaptif dapat
meningkatkan performance seperti apa yang keinginan user
– Strategi adaptif dapat membantu kendali lalulintas.
•
Akan tetapi, strategi ini dapat
menimbulkan beberapa akibat::Proses pengambilan keputusan untuk
menetapkan rute menjadi sangat rumit akibatnya beban pemrosesan pada jaringan
meningkat.
•
Pada kebanyakan kasus, strategi
adaptif tergantung pada informasi status yang dikumpulkan pada satu tempat
tetapi digunakan di tempat lain.
Akibatnya beban lalu lintas meningkat
•
Strategi adaptif bisa memunculkan
masalah seperti kemacetan apabila reaksi yang terjadi terlampau cepat, atau
menjadi tidak relevan apabila reaksi sangat lambat
•
Mekanisme kendali lalulintas sendiri
mempunyai 3 tipe umum, yaitu flow control, congestion control dan
deadlock avoidance.
•
Flow Control digunakan untuk mengatur aliran data
dari dua titik. Flow control juga digunakan untuk hubungan yang bersifat
indirect, seperti misal dua titik dalam sebuah jaringan packet-switching di
mana kedua endpoint-nya merupakan sirkit maya.
•
Secara fundamental dapat dikatakan
bahwa fungsi dari flow control adalah untuk memberi kesempatan kepada penerima
(receiver) agar dapat mengendalikan laju penerimaan data, sehingga ia tidak
terbanjiri oleh limpahan data.
•
Congestion Control digunakan untuk menangani terjadinya kemacetan. Terjadinya kemacetan
bisa diterangkan lewat uraian berikut. Pada dasarnya, sebuah jaringan
packet-switched adalah jaringan antrian.
•
Pada masing-masing node, terdapat
sebuah antrian paket yang akan dikirimkan ke kanal tertentu. Apabila kecepatan
datangya suatu paket dalam sebuah antrian lebih besar dibandingkan kecepatan
pentransferan paket, maka akan muncul efek bottleneck. Apabila antrian makin
panjang dan jumlah node yang menggunakn kanal juga bertambah, maka kemungkinan
terjadi kemacetan sangat besar.
•
Permasalahan yang serius yang
diakibatkan efek congestion adalah deadlock, yaitu suatu kondisi di mana
sekelompok node tidak bisa meneruskan pengiriman paket karena tidak ada buffer
yang tersedia.
•
Teknik deadlock avoidance digunakan untuk mendisain
jaringan sehingga deadlock tidak terjadi.
•
Bentuk deadlock yang paling
sederhana adalah direct store-and-forward deadlock. Pada gambar (a)
memperlihatkan situasi bagaimana antara node A dan node B berinteraksi di mana
kedua buffer penuh dan deadlock terjadi.
•
Bentuk deadlock kedua adalah indirect
store-and-forward deadlock(gambar (b)). Hal
ini terjadi tidak pada sebuah link tunggal seperti bentuk deadlock di muka.
Pada tiap node, antrian yang ditujukan untuk node terdekatnya bersifat searah
dan menjadi penuh.
•
Bentuk deadlock yang ketiga adalah
reassembly deadlock.Situasi ini digambarkan pada (c) di mana
node C memiliki 4 paket terdiri dari paket 1 tiga buah dan sebuah paket 3.
Seluruh buffer penuh dan tidak mungkin lagi menerima paket baru.
Ø Ketika dua atau lebih jaringan bergabung dalam sebuah
aplikasi, biasanya kita sebut ragam kerja antar sistem seperti ini sebagai sebuah internet-working.
Ø Penggunaaan istilah internetwork (atau
juga internet) mengacu pada perpaduan jaringan, misalnya LAN-
WAN-LAN, yang digunakan.
Ø Masing-masing jaringan (LAN atau WAN) yang terlibat
dalam internetwork disebut sebagai subnetwork atau subnet.
Ø
Piranti yang digunakan untuk
menghubungkan antara dua jaringan, meminjam istilah ISO, disebut sebagai intermmediate
system (IS) atau sebuah internetworking unit (IWU).
•
Selanjutnya apabila fungsi utama dari
sebuah intermmediate system adalah melakukan routing, maka piranti
dimaksud disebut sebagai router, sedangkan apabila tugas piranti adalah menghubungkan antara dua tipe
jaringan, maka disebut sebagai gateway.
•
Sebuah protocol converter
adalah sebuah IS yang menghubungkan dua jaringan yang bekerja dengan susunan
protokol yang sangat berlainan, misalnya menghubungkan antara sebuah susunan
protokol standar ISO dengan susunan protokol khusus dari vendor dengan susunan
tertentu.
•
Selain menggunakan Router dan Gateway, peralaan yang juga
digunakan untuk perantara antar segmen jaringan yang berhubungan. Antara lain :
Repeater dan Bridge
B r i d g e
v
Bridge adalah peralatan antara yang menghubungkan dua
jaringan yang protokol lapisan fisiknya
berbeda.
v
Ini berarti komunikasi terjadi pada level MAC (lapisan
datalink bagian bawah) yang serupa
v Bridge
digunakan untuk menghubungkan Jaringan Ethernet dengan jaringan Token Bus.
Arsitektur internetwork diperlihatkan pada
gambar berikut ini.
Ø
Gambar diatas memperlihatkan
dua contoh dari tipe jaringan tunggal. Yang pertama adalah site-wide LAN yang menggabungkan LAN
satu gedung atau perkantoran yang terhubung lewat sebuah jaringan backbone.
Untuk menggabungkan LAN dengan tipe yang sama menggunakan piranti repeater/bridge sedangkan untuk jaringan yang bertipe beda
menggunakan router/gateway.
Ø
Contoh yang kedua adalah sebuah WAN tunggal, seperti jaringan
X.25. Pada kasus ini, setiap pertukaran paket (DCE/PSE) melayani set DCE
sendiri, yang secara langsung lewat sebuah PAD, dan tiap PSE terinterkoneksi
oleh jaringan switching dengan topologi mesh.
ü Dua
protokol Internet yang banyak digunakan adalah Internet Protocol (IP) dan ISO
Internet Protocol (ISO IP)
•
Internet Protocol merupakan protokol
internetwide yang dapat menghubungkan dua entitas protokol transport yang
berada pada ES atau host yang berbeda agar dapat saling menukarkan
unit-unit pesan. Protokol jenis ini sangat luas
digunakan untuk internet jenis komersial maupun riset.
•
Protokol ISO-IP menggunakan acuan internetwide, connectionless dan
subnetwork-independent convergence protocol. Protokol ini didefinisikan secara
lengkap di ISO 8473.
•
Secara umum pendekatan dua protokol
ini dapat digambarkan pada gambar